Latest Bayu Radix Sukses :


Recent Bayu Radix Sukses
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL PENGGUGAH JIWA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL PENGGUGAH JIWA. Tampilkan semua postingan

Aku Untukmu Karena Allah

Engkau yang selalu disisiku, Aku berharap menerimaku Apa adanya
Engkau yang selalu disisiku, Aku bukanlah Suami yang sempurna
Engkau yang selalu disisiku, Aku hanya Suami yang berusaha meniti jalan Nya
Engkau yang selalu disisiku, Aku Ingin selalu ada Suara sejuk dan Lembutmu
Engkau yang selalu disisiku, Aku berharap selalu mencintaiku hingga akhir nanti
Engkau yang selalu disisiku, Bukan Cinta semata, namun Cinta karena Kecintaanmu kepada Allah
Engkau yang selalu disisiku, Aku berharap selalu menjadi Pengingatku kepada Allah
Engkau yang selalu disisiku, Luruskan dikala aku bengkok
Peluklah ketika aku Rapuh
Engkau yang selalu disisiku, Aku Berharap mampu mengajakku selalu dijalan Allah
Engkau yang selalu disisiku, Aku berharap menjadi pembimbing bagi Anak-anakku untuk selalu Taat pada Allah
Engkau yang selalu disisiku, Aku Berharap saat inipun meniti jalan Untuk selalu Taat pada Allah
Engkau yang selalu disisiku, Aku Berharap Kita bersama-sama di SyurgaNya Kelak.
#AkuuntukmukarenaAllah
Surabaya, 18 Ramadhan 1437 H /23 Juni 2016

Muliakan Beliau Akhi/Ukhti

Satu menit saja, coba renungkan ini:
- Saat kita mulai sibuk, maaf,
# OrangtuaKita malah jadi babysitter, jagain anak-anak kita...
- Saat kita makin sibuk, maaf, #OrangtuaKita malah jadi pembantu, beres-beres rumah kita…
- Saat kita sangat sibuk, maaf, #OrangtuaKita malah jadi satpam, jagain rumah kita...
- Saat kita nggak sibuk dan berlibur, ternyata #OrangtuaKita tetap saja di rumah…
Dulu, orangtua sudah lelah ngurusin kita. Apa iya, sekarang ngurusin anak-anak kita? Kapan bebasnya? Kapan istirahatnya? Think...
Kakek-nenek, kalau sesekali ketemu cucu dan main-main sama cucu, tentulah senang bukan kepalang. Tapi kalau ngurus cucu dari pagi sampai sore, dari Senin sampai Ahad, itu sih beban.
Memang, orangtua nggak pernah ngeluh ketika ngurus anak-anak kita. Itulah pengorbanan orangtua demi kita. Tapi kitanya yang mesti tahu dalil dan tahu diri. Anak itu amanah bagi orangtuanya. Bukan kakek-neneknya. Sekali lagi, itulah pentingnya kita tahu dalil dan tahu diri.
Maaf, kalau kesinggung. Soalnya di sekitar kita, banyak anak yang nggak tahu diri. Bener, nggak tahu diri. Di mana ia selalu membebani. Boro-boro menentramkan hati.
#OrangtuaKita mungkin nggak lama lagi umurnya. Jangan lagi kita kasih beban. Sisa-sisa umurnya, isilah dengan kebahagiaan dan kedamaian. Hei, kapan lagi mau berbakti?
Mumpung diri kita masih ada umur. Mumpung orangtua kita masih ada umur. Betapa banyak anak yang akhirnya nyesel, karena tak sempat berbakti.
Ingatlah, orangtua juga punya kesibukan. Mungkin ngumpul sama temannya. Mungkin menyalurkan hobi. Mungkin pergi ke pengajian. Mungkin jalan-jalan ke mana. Nggak percaya? Yah, coba saja Anda beri mereka kesempatan dan uang secukupnya. Lihatlah apa yang kemudian mereka lakukan.
Kalau kita menyalahkan keadaan (karena faktor pekerjaan, faktor ekonomi, dll) itu sama sekali bukan jawaban. Sungguh, tak layak dijadikan alasan. Dewasalah. Kita yang bekerja, kita yang menikah, kita yang punya anak, pastikan kita yang bertanggung-jawab atas segala konsekuensi…
Saya pun tak pernah membaca riwayat sahabat yang berlomba-lomba menitipkan anak pada orangtuanya.
Yang sudah terlanjur, ayo targetkan untuk berubah. Batinkan dalam hati, “Enam bulan lagi, aku pastikan orangtuaku benar-benar tenang. Aku percaya Tuhan-ku Maha Memampukan. Aku percaya ada solusi untuk setiap keadaan.”
Target itu niat. Kalau kita sungguh-sungguh menargetkan, insya Allah ada jalan keluar. Tersolusikan. Sampaikan juga komitmen ini kepada saudara-saudara kita. Share. Yakinlah, ini soal komitmen, bukan soal uang.
Sudah saatnya kita membuat orangtua bangga dan bahagia. Semoga kita semua dimampukan. Aamiin...

FB Mas Ippho

Buruk Sangka Berbuah Surga

Buruk Sangka 1
Ada seorang Bapak naik kereta api dengan empat orang anaknya yang masih kecil-kecil. Mereka berangkat dari Jakarta menuju ke Surabaya dengan kereta eksekutif. Sejak dari berangkat, keempat anaknya tidak henti-hentinya bermain, bercanda, berlari-lari sepanjang gerbong kereta. Sementara si Bapak kelihatan duduk terpekur seakan tidak peduli pada tingkah anak-anaknya yang cukup menggangu penumpang lain.
Akhirnya seorang wanita muda yang duduk tidak jauh dari si Bapak memberanikan diri menegur.
“Pak, maaf ya. Apakah tidak sebaiknya anak-anak Bapak disuruh duduk saja yang tenang di dekat Bapak? Suara mereka bising sekali Pak. Tingkah mereka terlalu over. Saya sangat terganggu….. Mungkin penumpang lain juga begitu. Cuma mereka sungkan saja tidak mau menegur Bapak…… Kok Bapak tidak peduli begitu sih? Kalau enggak bisa ngurus anak, ya sebaiknya tidak usah punya anak,” demikian sergah si wanita muda pada si Bapak, dengan suara tinggi dan nada gusar. Penumpang lain mendengarkan. Sebagian bergumam tanda setuju pada si wanita.
Si Bapak mengangkat wajahnya sejenak menatap wanita itu sebentar. Hanya lima detik, untuk kemudian kembali terpekur mengalihkan pandangannya lagi ke ujung sepatunya. Sambil menghela nafas ia berkata, 
“Yah, tadinya memang saya mau melarang anak-anak saya bersenang-senang seperti itu… “
Kemudian si Bapak diam lagi, terpekur kembali, agak lama.
“Kalau Bapak tidak mau melarang, biar saya saja yang melarang mereka,” potong seorang ibu yang tidak sabar menunggu respon lanjutan dari si Bapak.
“Jangan Bu,” cegah si Bapak. Sekali lagi si Bapak menghela nafas dan kemudian melanjutkan dengan kata-kata berikut.
“Saya cuma tidak tega saja menghilangkan keceriaan anak-anak saya. Mereka baru pertama kali naik kereta api. Ini hari pertama saya melihat mereka tertawa, sejak pekan lalu. Istri saya, ibu mereka, baru saja meninggal dunia sepekan yang lalu. Saya mau membawa mereka ke rumah neneknya di Surabaya. Mudah-mudahan di sana mereka bisa melupakan duka-cita keluarga kami yang berat ini.”
Tiba-tiba gumaman penumpang berhenti. Hening. Hanya terdengar tawa ceria empat orang anak-anak yang berlari di lorong kereta. Rasa sesal menyeruak ke dalam hati para penumpang yang tadinya berburuk sangka pada sang Bapak. Si wanita muda terdiam tidak tahu harus berkata apa. Beberapa ibu menyembunyikan matanya yang membasah.
Berburuk sangka pada sang Bapak telah menimbulkan rasa sesal pada sebagian penumpang kereta api eksekutif itu. Terutama pada si wanita muda. “Mengapa aku langsung menyerang dia dengan kata-kata kasar tadi, tanpa tahu duduk persoalannya terlebih dulu?” pikirnya penuh rasa bersalah.
Buruk Sangka 2
Berprasangka buruk pada orang lain itu pada umumnya tidak baik. Seperti contoh pada cerita pertama (Buruk Sangka 1). Buruk sangka yang berakhir pada penyesalan. Buruk sangka atau su’u zhon, terutama akan menjadi sangat buruk jika targetnya adalah saudara atau sahabat kita. Masa’ ente enggak percaya sih sama saudara sendiri? Ente enggak punya trust banget sama ane?!
Buruk sangka akan amat sangat buruk jika targetnya adalah Sang Maha Pencipta, alias Allah SWT. Yang dimaksud dengan su’u zhon pada Allah contohnya adalah jika kita banyak mengeluh dan merasa bahwa Allah telah berlaku tidak adil pada kita. Kalau kita dapat musibah sedikit saja, sudah merasa bahwa kita adalah orang paling sial sedunia. Biasanya kemudian timbul pertanyaan: “Kenapa saya? Kenapa saya mendapat musibah ini? Why me? Tuhan benar-benar tidak adil!”
Konon di negeri Paman Sam pernah ada tuntutan tidak masuk akal yang didaftarkan ke pengadilan sipil setempat oleh seorang preman. Objek yang dituntutnya adalah: Tuhan. Isi tuntutan: bahwa Tuhan telah berlaku tidak adil dan sewenang-wenang dengan menggariskan takdir Mister Preman tadi menjadi orang jahat, tidak pernah kaya dan selalu ketiban sial. Tuntutan yang benar-benar konyol. Dalam bahasa kita di Indonesia, itu adalah buruk sangka yang sangat keterlaluan terhadap Allah SWT. Untungnya tuntutan itu tidak dipenuhi oleh Pengadilan AS. Mungkin bisa meletus Perang Dunia ketiga jika tuntutan gila itu dipenuhi ;-)
Cerita sebaliknya adalah dari Menteri Kesehatan kita, almarhumah ibu Endang Sri Rahayu. Ketika beliau diketahui menderita kanker paru ganas, tidak terlihat rasa kecewa atau marah dari ibu Endang pada Allah SWT. Justru beliau ber-husnu-zhon (bersangka baik) bahwa pasti Allah SWT memperlihatkan hikmah-Nya. Beliau justru membandingkan kenikmatan yang telah diterimanya selama ini, seperti memiliki keluarga yang pintar, baik dan penuh cinta, harta yang cukup, ilmu yang tinggi, dengan cobaan ‘kecil’ yang dideritanya. Menurut beliau jauh lebih besar kenikmatan yang telah dia terima daripada keburukan yang menimpanya. Sehingga dengan pasrah dan tawakkal, ibu Endang menerima takdir bahwa paru-parunya menjadi tempat bersemayam virus kanker yang ganas.
Itulah salah satu contoh husnu-zhon pada Allah SWT yang patut ditiru oleh semua orang. Setelah kita melakukan ikhtiar dengan optimal, maka kita bersangka baik bahwa Allah SWT akan menggariskan takdir-Nya pada kita dengan sifat ke-Maha Besar-annya. Dan itu jalan hidup kita yang terbaik.
Buruk Sangka 3
Tapi ternyata ada buruk sangka (su’u zhon) yang dianjurkan. Yaitu berburuk sangka pada diri kita sendiri. Maksudnya seperti apa?
Su’u zhon yang dimaksud di sini adalah buruk sangka terhadap amal-amal yang telah kita lakukan. Kita dianjurkan memandang remeh pada perbuatan-perbuatan baik yang kita lakukan. Ada banyak orang yang berbuat lebih baik dari kita. Amal-amal sholeh kita itu tidak ada artinya dibandingkan dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan yang telah kita lakukan. Pahala yang mungkin kita dapat dari amalan kita masih jauh dari cukup untuk memasukkan kita ke surga. Demikian seterusnya, kita bersangka buruk bahwa amal-amal kita belum banyak dan belum tentu diterima, kita kurang ikhlas, kerja kita kurang optimal. Dan lain sebagainya.
Dengan demikian kita terpacu untuk terus memperbaiki amal-amal kita dan terus menambah perbuatan-perbuatan baik kita.
Ketika Abu Bakar Shiddiq ra dipuji orang karena khutbahnya yang bagus, beliau menjadi sangat bersedih. Karena beliau merasa bahwa amal-amalnya masih jelek, jauh di bawah daripada yang disangkakan orang kepadanya. Sehingga beliau berdoa, “Ya Allah, jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka persangka-kan. Dan ampunkanlah keburukan-keburukanku yang tidak mereka ketahui.”
Suatu ketika turun Al-Qur’an surat Al-Mu’minuun ayat 60, yaitu:
Yang artinya: “Dan orang-orang yang memberi dengan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka.”
Lalu Aisyah ra bertanya pada Rasululloh SAW, “Mengapa mereka merasa takut? Apakah karena mereka orang-orang yang mencuri, berzina, meminum khamr? Sehingga mereka merasa takut pada Allah?”
Rasululloh SAW menjawab, “Bukan wahai putri As-Shiddiq. Mereka adalah orang-orang yang mendirikan sholat, berpuasa, bersedekah. Tetapi mereka takut bahwa semua amalnya itu tidak diterima oleh Allah SWT. Sehingga mereka selalu bersegera untuk melakukan kebaikan-kebaikan. Dan merekalah orang-orang yang akan segera menerima kebaikan itu.”
Jadi orang-orang yang digambarkan di surat Al-Mu’minuun ayat 60 tersebut adalah orang-orang yang ber-sangka buruk terhadap amal-amalnya. Mereka sudah banyak melakukan sholat, puasa, sedekah. Akan tetapi mereka menganggap amal-amal itu masih sangat sedikit. Mereka ber-su’u zhon bahwa amal-amal itu belum dapat mengangkat mereka ke surga. Akibatnya mereka terus berupaya untuk menambah amal-amal mereka dengan senantiasa bersegera untuk melakukan kebaikan kebaikan lain dimanapun dan kapanpun. Dan Rasululloh SAW menjanjikan kebaikan-kebaikan yang banyak untuk mereka. Dan mereka akan kembali kepada Allah SWT dengan membawa amal-amal kebajikan yang banyak.
Itulah dia buruk sangka yang berbuah surga. Buruk sangka terhadap amal-amal kita sendiri. Semoga kita terus ber-fastabiqul khoirot, berlomba-lomba mengerjakan kebaikan-kebaikan karena amal-amal kita memang senantiasa tidak cukup untuk membawa kita ke surga jannatuna’im. Kecuali jika Allah SWT memberikan Rahmat-Nya pada kita. Wallahu’alam.

KIsah Hikmah sebuah Arloji


Pernah datang seorang ikhwan (pria) yang berkonsultasi kepada kami di KLINIK KELUARGA SAKINAH Nurul Ilmi. Ikhwan tersebut mengeluh karena sudah bertahun-tahun mencari jodoh, tetapi tetap belum ada yang cocok dengan kriterianya. Bahkan teman-temannya sudah mencoba mencarikan, tetapi tetap juga belum ketemu. Kemudian, setelah mendengarkan penjelasannya, barulah kami mengetahui bahwa beliau hanya butuh untuk mendengarkan hati nuraninya tentang kriteria yang diinginkan. Beliau membuat kriteria yang cukup sulit berdasar logika akal sadarnya, sehingga mempersulit dirinya sendiri. Lalu, kami ceritakan sebuah kisah hikmah Arloji kepada beliau:

-------------------- kisah arloji-------------------------
Suatu ketika, ada seorang tukang kayu yang mempunyai sebuah arloji. Arloji tersebut selalu dibawanya kemanapun. Karena arloji tersebut adalah arloji yang sangat ia sukai serta ada sebuah kisah kenangan. Ketika bekerja di studio kayu, secara tidak sengaja arloji tersebut jatuh dan tersembunyi di balik serbuk-serbuk kayu. Tukang kayu tersebut baru sadar bahwa arloji miliknya terjatuh ketika serbuk-serbuk kayu sudah banyak menutupi lantai studio kayu tersebut. Kemudian tukang kayu tersebut mencari-cari arlojinya. Kemudian teman-teman tukang kayu melihat tukang kayu kebingungan mencari arlojinya. Mereka menawarkan diri dengan sukarela untuk membantu mencarikan arloji tersebut. Setelah 2 jam mencari, mereka semua akhirnya sudah cukup lelah dan putus asa. Keringat mengalir membasahi pipi teman-teman tukang kayu. Wajar saja karena suhu di studio kayu tersebut cukup panas. Satu persatu teman-teman tukang kayu mengatakan kepada si tukang kayu, bahwa insyaAllah arloji itu akan ditemukan. Untuk saat ini mungkin belum ditemukan, karena sudah cukup lama mencari, mereka ingin istirahat terlebih dahulu. Mendengar ucapan teman-temannya, si tukang kayu juga hampir putus asa. Ketika ruang studio kayu dimana ia bekerja sudah ditinggalkan teman-temannya untuk istirahat, si tukang kayu duduk termenung dan memohon kepada Allah untuk dipertemukan kembali dengan arloji kesayangannya itu.

Ketika duduk dan berdoa itulah sayup-sayup tukang kayu mendengar suara "tik, tik, tik..." Ya, itu adalah suara detak arloji. Kemudian tukang kayu mencoba mencari-cari di mana asal suara tersebut. Ternyata arloji tersebut terkubur di bawah tumpukan serbuk kayu. Tukang kayu tersebut mencarinya sendiri dan alhamdulillah ketemu.

Dengan bahagia dan syukur, tukang kayu menceritakannya kepada teman-temannya. Teman-temannya kemudian bertanya, bagaimana cara tukang kayu menemukannya, padahal sudah banyak orang yang mencari di tempat yang sama namun belum ditemukan. Tukang kayu tersebut menjawab, ketika ia duduk berdiam diri dan sambil berdoa kepada Allah, ia bisa mendengarkan bunyi detak arloji.
-----------------------------end of Kisah Hikmah : Arloji!-------------------------------------

Ikhwan tersebut kemudian mulai memahami apa yang sebaiknya ia lakukan. Kami hanya menyarankan untuk Shalat yang Khusyuk dan mencoba Istikhoroh. Serta mengikuti Kuliah Pra Nikah, karena dengan mengikutinya, kami menjadi berani untuk mengikutkannya dalam program Baitu At Ta'aruf, yaitu sebuah fasilitas bantuan dari Nurul Ilmi untuk menemukan jodohnya.

Mungkin dari kisah yang menurut Sahabat tidak istimewa ini, sahabat juga dapat mengambil hikmahnya.

Jika sahabat ingin berkonsultasi dalam rangka mewujudkan Keluarga Sakinah, insyaAllah kami siap membantu dengan program-program di Nurul Ilmi, terutama dengan KLINIK KELUARGA SAKINAH NURUL ILMI.

Apakah sahabat dapat menemukan hikmah dari KISAH di atas? Kalau memang ada dan baik untuk dibagikan kepada sahabat yang lain, sahabat boleh komen hikmah tersebut di Catatan Ini. InsyaAllah 2 sahabat yang beruntung mendapatkan kesempatan untuk BERINFAQ 50% ketika mengikuti KULIAH PRA NIKAH. Lima puluh persen investasi yang sahabat bayarkan digunakan untuk membantu seorang SAHABAT MUSLIMAH (Akhwat) yang kurang mampu untuk mengikuti KULIAH PRA NIKAH REGULER AKHWAT ANGKATAN VI (dimulai tanggal 20 Mei 2012). Beliau tersebut merupakan mantan korban missionaris/kristenisasi, alhamdulillah ada sahabat yang lain yang berhasil menyelamatkan beliau dan saat ini beliau ingin mempersiapkan diri menuju pernikahan meraih KELUARGA SAKINAH. Semoga sahabat adalah orang yang diberi kesempatan oleh Allah untuk membantu sahabat tersebut menemukan Indahnya Islam.

Info & Pendaftaran serta Reservasi
Sekolah Tinggi Ilmu Keluarga Sakinah NURUL ILMI
Jl Kaliurang km 8,5. Jl Sunan muria 5, Jaban, Sinduharjo
Ngaglik, Sleman. DI Yogyakarta
0274-883543/ 0838-636-77-77-1

Jika RINDUKAN SESEORANG , PEJAMKANLAH MATA dan UCAPKANLAH :


" Ya Allah Aku rindukannya keranaMu Ya Allah , Jauhkanlah aku dari perkara yang membuatkan aku lupa kepadaMu . Aku semakin mengerti, ‘JARAK’ ini bukan untuk menghukumku..tetapi ‘JARAK’ ini untuk MENJAGA aku dan dia..

Dengan ‘JARAK’ ini aku dan dia berjanji untuk BERUBAH menjadi yang lebih baik..

Dengan JARAK ini aku dan dia berjanji untuk MEMPERBAIKI cinta kepada Ilahi..

Dengan jarak ini aku dan dia berjanji untuk MENCINTAI Pencipta kami lebih dari segalanya..

Dengan JARAK ini aku dan dia berjanji untuk MENDALAMI Islam hingga ke akar umbi..

Dan Dengan JARAK ini jua aku dan dia yakin andai tiba saatnya nanti, aku dan dia akan LEBIH BERSEDIA untuk melayari semua ini dengan jalan yang diredhai..

P/S : Terima kasih ya Allah kerana memberi PELUANG kepadaku melalui jalanMu ini..terima kasih kerana memberikan JARAK itu kepada aku dan dia....


Renung-renungkanlah.. Fikir-fikirkanlah..
Silakan Share.. Tak Perlu Minta Izin..

http://www.facebook.com/jomdakwah

~* BIDADARI ITU ~*

Bidadari Itu...

Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra. : Nabi Muhammad Saw pernah bersabda, “seandainya bidadari dari surga menampakkan dirinya kepada penduduk dunia, cahaya tubuhnya akan berpendaran meliputi ruang antara langit dan bumi, dan kerudung rambutnya lebih elok daripada dunia dan segala isinya..

Tentang para bidadari itu..
aku mengenal mereka,dahulu
mereka yang wajahnya terlihat amat teduh walau hanya berlapiskan cairan wudhu
meraka yang dalam keanggunan tutur bahasanya tetap menyiratkan ketegasan
mereka yang dalam senyum diamnya sanggup membiaskan ketulusan

mereka yang dalam diamnya aku ambil hikmah
mereka yang dengan perkataannya aku ambil sebagai hujjah

mereka,
para bidadari dunia yang pernah aku jumpai..
walaupun memakai pakaian gelap, ternyata tak menutupi pesona surgawinya
walaupun tak bersolek, ternyata tak mengurangi aura keshalihannya
walaupun tak bergaya tetapi tetap mampu memberikan inspirasi

Rindu pada kalian semua..
yg jadikan Allah satu-satunya tujuan
yg jadikan Rasulullah sebagai panutan
yg jadikan AL-Qur’an sebagai pedoman
yg jadikan para shahabiyah sebagai qudwah
yg tempatkan akhirat di hatinya dan dunia di genggamannya..

Dimanakah mereka saat ini?

Karena,
Menjadi bidadari itu bukan hadiah..
butuh kesabaran diiringi tadhiyah
perlu usaha dan juga lelah
karena memang tak mudah untuk (sekedar) menjaga izzah

Menjadi bidadari itu bukan didapatkan dengan angan..
ada perjuangan
harus senantiasa teguh dalam ketaatan
menjauhkan diri dari segala yang melemahkan
utamanya, mampu menjawab kesulitan dengan senyuman penuh keikhlasan

bidadari itu
bukan pajangan
atau hiasan pemanis ruangan
Ia harus punya kontribusi pemikiran
apalagi kalau bukan untuk kemajuan peradaban

Ia bukan dilihat dari wajah rupawan
Bukan juga dari sekadar menariknya penampilan
tapi dari bagaimana baiknya tutur lisan
santunnya kelakuan
dan juga ketegasan kala diperlukan

bidadari itu tak seharusnya ragu
yang jelas, jangan sampai hati terkotori karena ucapan merayu
pandangan sendu
apalagi
kalau dirimu diminta menunggu dengan embel-embel ini itu

dan
Kalau meraka tercekat dengan merahnya cinta,
maka untukmu wahai para penghulu bidadari di dunia
azzamkan untuk terus teguh demi hijaunya surga

buat saudariku,
tetaplah menjadi para pemuda kahfi
“terasing” demi kebenaran hakiki
yang berbeda dari yang ‘biasa’
jika demi keridhaan-Nya
mengapa tidak diperjuangkan?

Semoga Bermanfaat
http://www.facebook.com/pages/MENATA-HATI-Berbenah-Diri-Menuju-Ridha-dan-Cinta-NYA/231986680230870

~* WAHAI PARA SUAMI….. JANGANLAH CEPAT MARAH, BERSABARLAH ~*

Janganlah cepat marah….
Bersabarlah dalam keterbatasan yang dimiliki oleh pasangan kita. Tidak semua orang akan mampu dalam sekejap untuk bisa memahami apa yang kita mau. Itu semua butuh proses yg panjang. Seperti seorang murid yang tidak akan mudah mengerti apa maksud dari dia belajar. Setelah sekian lama baru dia mengerti akan artinya belajar itu. Tapi sang guru tidak akan pernah meninggalkan muridnya dan selalu siap memberikan pelajaran kapan saja dan dimana saja. Meski pelajaran itu sudah berlalu sekian tahun yang lalu.

Bersabar itulah yang tebaik. Ada hikmah dibalik sabar itu. Allah tidak akan sia-sia menciptakan dan menjadikan sesuatu di muka bumi ini. Ambilah ini sebagai ladang amal bagi kita. Seperti petunjuk yang diberikan oleh Nabi Muhammad SAW agar seorang suami bersabar hati dalam menghadapi cobaan istri.
Dalam sebuah hadist diriwayatkan “Siapa yang sabar menghadapi kerendahan pekerti istrinya, maka Allah SWT akan memberikan pahala sebesar apa yang diberikan kepada Nabi Ayub a.s sehubungan dengan cobaan beliau”.

Seorang suami adalah pemimpin dalam RT-nya. Bagi para suami janganlah engkau lalaikan para istrimu dan keluarga mu.
Karena istrimu :
Adalah makhluk ciptaan Allah yang memiliki kelembutan hati.
Yang dibuat dari tulang rusuk mu.
Dia tidak diciptakan dari kaki mu untuk engkau langkahi,
Dia juga tidak diciptakan dari kepala mu untuk menjadi unggul di atas mu,
Tapi dari sisimu untuk menjadi sama (dan dekat) dengan mu,
Dari bawah lenganmu untuk engkau lindungi,
Dan dekat hatimu untuk kamu cintai.

Dalam Sahih Bukhari Volume 4, Book 55, Number 548:
Dikisahkan oleh Abu Huraira:

Rasul Allah berkata, “Perlakukan wanita dengan baik, wanita diciptakan dari tulang rusuk, dan bagian paling melengkung dari tulang rusuk adalah bagian atas, sehingga, jika Anda harus mencoba untuk meluruskannya, ia akan patah, tapi jika Anda meninggalkan begitu saja, ia akan tetap bengkok. Jadi memperlakukanlah wanita dengan baik. “

Istri dalam berfikir dan memahami sesuatu agak lemah dibandingkan suami karena wanita sudah ditakdirkan lebih banyak menggunakan perasaan…. sehingga kepahaman wanita tentang sesuatu itu lebih lama dibandingkan laki-laki. Dan sebaik-baiknya seorang pemimpin adalah yang sabar dan lemah lembut…. yang selalu membimbing siapa yang dipimpinnya. Tidak meninggalkannya di tengah jalan/mencampakkannya kerena keterbatasan dan kerendahan akhlak yang dimiliki oleh sang istri.

Dr. ‘Aidh al-Qarni memberikan sebuah nasehat di dalam bukunya yang berjudul La Tahzan
“Anda jangan maju, khususnya, dalam masalah pernikahan kecuali dari sisi agama, kecantikan dan kepribadian sudah diterima. Sebab masalah pernikahan adalah masalah kelangsungan hidup si wanita,yang mana anda telah memutuskan untuk menerimanya, dan bukan sesuatu yang ketika tidak lagi berharga, lalu dicampakkan begitu saja dengan berbagai alasan”.

Semoga Bermanfaat
http://www.facebook.com/pages/MENATA-HATI-Berbenah-Diri-Menuju-Ridha-dan-Cinta-NYA/231986680230870

~* Awali Kerja Dengan Sholat Dhuha ~*



Bismillahirrahmanirrahim...
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Tubuh manusia memiliki ratusan tulang yang masing-masing dihubungkan dengan persendian. Jumlah persendian dalam tubuh manusia adalah 360, sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah SAW dan dibenarkan oleh para dokter. Kita tidak bisa membayangkan, bagaimana jika tulang-tulang yang ada dalam tubuh kita tersebut tidak dihubungkan dengan persendian. Atau salah satu persendian tersebut tidak bisa menjalankan fungsinya dengan baik. Maka, tidak ada yang mengetahui betapa besarnya nikmat ini kecuali orang yang telah kehilangan nikmat tersebut.

Shadaqah tanpa harta
Setiap hari, persendian kita mempunyai kewajiban untuk bershadaqah sebagai realisasi syukur kita kepada Allah, Dzat yang telah menciptakannya. Caranyapun beragam sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah SAW, "Setiap persendian manusia diwajibkan untuk bershadaqah setiap harinya sejak matahari terbit. Memisahkan (menyelesaikan perkara) antara dua orang yang berselisih adalah shadaqah. Menolong seseorang naik ke atas kendaraannya atau mengangkat barang-barangnya ke atas kendaraannya adalah shadaqah. Berkata yang baik juga termasuk shadaqah. Begitu pula setiap langkah berjalan untuk menunaikan shalat adalah shadaqah. Serta menyingkirkan suatu rintangan dari jalan adalah shadaqah." (HR. Bukhari dan Muslim)

Begitu berat dan lelahnya kita jika harus nelakukan berbagai amal tersebut setiap harinya. Sehingga para sahabatpun bertanya, "Siapa yang sanggup melakukan, wahai Rasulullah?" Maka beliau menjawab, "Jika ia tidak mampu, maka dua rakaat Dhuha sudah mencukupinya." (HR Ahmad Abu Dawud)

Rasulullah SAW memberikan kemudahan kepada umatnya, bahwa semua shadaqah yang dilakukan oleh anggota badan tersebut dapat diganti dengan dua rakaat shalat Dhuha, karena shalat merupakan amalan semua anggota badan. Jika seseorang mengerjakan shalat, maka setiap anggota badan menjalankan fungsinya masing-masing. Demikian penjelasan yang disebutkan oleh Ibnu Daqiqil 'Ied.

Jumlah raka'at Dhuha minimal adalah 2 raka'at sedangkan maksimalnya adalah 8 raka'at. Dengan menjalankan 2 raka'at Dhuha, kita telah melaksanakan salah satu wasiat Rasulullah SAW. Abu Hurairah berkata, "Kekasihku, Rasulullah SAW berwasiat kepadaku dengan tiga perkara: puasa selama tiga hari setiap bulannya, dua raka'at shalat Dhuha, dan mengerjakan shalat witir sebelum aku tidur." (Muttafaq 'Alaihi)

Keutamaan shalat dhuha
Meskipun bernilai sunnah, shalat ini mengandung banyak fadhilah (keutamaan), namun tidak banyak dari kita yang memperhatikannya. Diantaranya sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Darda' ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Allah ta'ala berfirman, "Wahai anak Adam, shalatlah untuk-Ku empat rakaat pada permulaan hari, maka Aku akan mencukupi kebutuhanmu pada sore harinya." (HR. Tarmidzi)

At Thayyibi menerangkan bahwa dengan mengerjakan empat rak'at di pagi hari, Allah akan mencukupi kebutuhan-kebutuhan kita dan menjauhkan kita dari semua yang tidak kita inginkan hingga sore hari. Fadhilah lainnya, orang yang mengerjakannya dimasukkan dalam golongan orang-orang yang kembali kepada Allah. Karena shalat Dhuha adalah shalat awwabin, shalatnya orang-orang yang kembali kepada Allah (bertaubat). Dalam hadits lain Rasulullah SAW menyebutkan bahwa pahala orang yang mengerjakan shalat Dhuha seperti orang yang mengerjakan umrah.

Menjadi kaya dengan shalat dhuha?
Ada diantara kaum muslimin yang begitu bersemangat mengerjakan shalat dhuha. Namun ironisnya ketika mereka melaksanakan shalat wajib, justru malas-malasan dan hanya sekedar untuk menggugurkan kewajiban saja. Shalat subuh dikerjakan jam enam pagi dan salat asar hanya kalau sempat saja. Penyebabnya, ada tujuan lain ketika mereka mengerjakannya yaitu ingin mendapatkan balasan di dunia, biar lancar rezekinya dan menjadi orang yang kaya raya. Sehingga doa-doa yang dipanjatkannyapun hanya dengan kelancaran rizki. Demikian fenomena yang sering kita dapatkan di masyarakat. Dunia, mungkin saja mereka peroleh. Boleh jadi akan semakin lancar rizkinya dan karirnya terus meningkat. Namun apa yang mereka peroleh di akhirat? Qatadah ketika menafsirkan surat Hud: 15-16, ia berkata, "Barang siapa yang dunia adalah tujuannya, dunia yang selalu dia cari-cari dengan amalan shalehnya, maka Allah akan memberikan kebaikan kepadanya di dunia. Namun ketika di akhirat, dia tidak akan memperoleh kebaiakn apa-apa sebagai alasan untuknya. Adapun seorang mukmin yang ikhlas dalam beribadah (yang hanya mengharapkan wajah Allah), selain akan mendapatkan balasan di dunia dia juga akan mendapatkan balasannya di akhirat."

Luangkan waktu
Waktu pelaksanaan shalat Dhuha adalah ketika matahari mulai naik sepenggalan, kira-kira seperempat jam setelah matahari terbit hingga waktu zawal (matahari tergelincir). Dan waktu yang paling afdhal adalah ketika matahari mulai panas.

Memang, tidak mudah untuk melaksanakan shalat Dhuha. Karena waktunya bertepatan dengan jam-jam dimulainya aktivitas keseharian, orang sibuk bekerja mencari rezki pada waktu tersebut. Namun, sesempit apapun waktu kita karena aktivitas sehari-hari, jika kita luangkan waktu sejenak untuk mengerjakan shalat Dhuha, Insya Allah tidak akan mengurangi jatah rizki yang telah ditentukan untuk kita. Kalau toh meluangkan waktu pada waktu tersebut tidak memungkinkan pula, karena peraturan perusahaan yang begitu ketat dan mengikat, shalat Dhuha bisa kita kerjakan sebelum masuk jam kerja. Nah, mari awali kerja kita dengan melaksanakan shalat Dhuha.
Wallahu'alam bishawab

~* Semoga bermanfaat, salam santun, salam ukhuwah Islamiyah ~*
http://www.facebook.com/pages/MENATA-HATI-Berbenah-Diri-Menuju-Ridha-dan-Cinta-NYA/231986680230870

~** Introspeksi Diri, Akhlak yang Terlupa **~


*********************************************
Dalam perjalanan hidup di dunia, tentunya seorang muslim tidak akan lepas dari kesalahan dan dosa sebagai akibat hawa nafsu yang diperturutkan. Selain itu, buah pemikiran yang dihasilkan manusia, yang dibangga-banggakan oleh pemiliknya, tidak jarang yang menyelisihi kebenaran, tidak sedikit yang bertentangan dengan ajaran yang ditetapkan oleh Allah dan rasul-Nya. Oleh karenanya, seiring waktu yang diberikan Allah kepada manusia di dunia, sepatutnya dipergunakan untuk mengintrospeksi segala perilaku dan pemikiran yang dia miliki, sehingga mendorongnya untuk mengoreksi diri ke arah yang lebih baik.

Introspeksi, Pintu untuk Mengoreksi Diri

Di dalam kitab Shahih-nya, imam Bukhari membuka salah satu bab kitab ash-Shaum dengan perkataan Abu az-Zinad,

إن السنن ووجوه الحق لتأتي كثيرًا على خلاف الرأي

“Sesungguhnya mayoritas sunnah dan kebenaran bertentangan dengan pendapat pribadi” [HR. Bukhari].

Memang benar apa yang dikatakan beliau, betapa seringnya seseorang enggan menerima kebenaran karena bertentangan dengan pendapat dan tendensi pribadi. Bukankah dakwah tauhid yang ditawarkan nabi kepada kaum musyrikin, ditolak karena bertolak belakang dengan keinginan pribadi mereka, terutama tokoh-tokoh terpandang di kalangan kaum musyrikin?

Tidak jarang seseorang tidak mampu selamat dari hawa nafsu dan terbebas dari kekeliruan pendapat karena bersikukuh meyakini sesuatu dan tidak mau menerima koreksi. Hal ini tentu berbeda dengan kasus seorang mujtahid yang keliru dalam berijtihad. Ketika syari’at menerangkan bahwa seorang mujtahid yang keliru memperoleh pahala atas ijtihad yang dilakukannya, hal ini bukan berarti mendukung dirinya untuk menutup mata dari kesalahan ijtihad dan bersikukuh memegang pendapat jika telah nyata akan kekeliruannya. Betapa banyak ahli fikih yang berfatwa kemudian rujuk setelah meneliti ulang fatwanya dan melihat bahwa kebenaran berada pada pendapat pihak lain.

Kita bisa mengambil pelajaran dari penolakan para malaikat terhadap kalangan yang hendak datang ke al-Haudh (telaga rasulullah di hari kiamat). Mereka tidak bisa mendatangi al-Haudh dikarenakan dahulu di dunia, mereka termasuk kalangan yang bersikukuh untuk berpegang pada kekeliruan, kesalahan dan kesesatan, padahal kebenaran telah jelas di hadapan mereka. Hal ini ditunjukkan dalam hadits, ketika para malaikat memberikan alasan kepada nabi,

إِنَّهُمْ قَدْ بَدَّلُوا بَعْدَكَ، وَلَمْ يَزَالُوا يَرْجِعُونَ عَلَى أَعْقَابِهِمْ، فَأَقُولُ: أَلَا سُحْقًا، سُحْقًا

“Mereka telah mengganti-ganti (ajaranmu) sepeninggalmu” maka kataku: “Menjauhlah sana… menjauhlah sana (kalau begitu)” [Shahih. HR. Ibnu Majah].

Kita dapat melihat bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendo’akan kecelakaan kepada mereka, karena enggan untuk melakukan introspeksi, enggan melakukan koreksi dengan menerima kebenaran yang ada di depan mata. Oleh karenanya, evaluasi diri merupakan perantara untuk muhasabah an-nafs, sedangkan koreksi diri merupakan hasil yang pengaruhnya ditandai dengan sikap rujuk dari kemaksiatan dan kekeliruan dalam suatu pendapat dan perbuatan.

Sarana-sarana untuk Mengevaluasi Diri

Diantara sarana yang dapat membantu seseorang untuk mengevaluasi diri adalah sebagai berikut:

Pertama, tidak menutup diri dari saran pihak lain

Seorang dapat terbantu untuk mengevaluasi diri dengan bermusyawarah bersama rekan dengan niat untuk mencari kebenaran. Imam Bukhari mengeluarkan suatu riwayat yang menceritakan usul Umar kepada Abu Bakr radhiallahu anhuma untuk mengumpulkan al-Quran. Tatkala itu Abu Bakr menolak usul tersebut, namun Umar terus mendesak beliau dan mengatakan bahwa hal itu merupakan kebaikan. Pada akhirnya Abu Bakr pun menerima dan mengatakan,

فَلَمْ يَزَلْ عُمَرُ يُرَاجِعُنِي فِيهِ حَتَّى شَرَحَ اللَّهُ لِذَلِكَ صَدْرِي، وَرَأَيْتُ الَّذِي رَأَى عُمَرُ

“Umar senantiasa membujukku untuk mengevaluasi pendapatku dalam permasalahan itu hingga Allah melapangkan hatiku dan akupun berpendapat sebagaimana pendapat Umar” [HR. Bukhari].

Abu Bakr tidak bersikukuh dengan pendapatnya ketika terdapat usulan yang lebih baik. Dan kedudukan beliau yang lebih tinggi tidaklah menghalangi untuk menerima kebenaran dari pihak yang memiliki pendapat berbeda.

Kedua, bersahabat dengan rekan yang shalih

Salah satu sarana bagi seorang muslim untuk tetap berada di jalan yang benar adalah meminta rekan yang shalih untuk menasehati dan mengingatkan kekeliruan kita, meminta masukannya tentang solusi terbaik bagi suatu permasalahan, khususnya ketika orang lain tidak lagi peduli untuk saling mengingatkan. Bukankah selamanya pendapat dan pemikiran kita tidak lebih benar dan terarah daripada rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, padahal beliau bersabda,

إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ، أَنْسَى كَمَا تَنْسَوْنَ، فَإِذَا نَسِيتُ فَذَكِّرُونِي

“Sesungguhnya aku hanyalah manusia seperti kalian. Aku lupa sebagaimana kalian lupa. Oleh karenanya, ingatkanlah aku ketika diriku lupa” [HR. Bukhari].

Ketika budaya saling menasehati dan mengingatkan tertanam dalam perilaku kaum mukminin, maka seakan-akan mereka itu adalah cermin bagi diri kita yang akan mendorong kita berlaku konsisten. Oleh karena itu, dalam menentukan jalan dan pendapat yang tepat, anda harus berteman dengan seorang yang shalih. Anda jangan mengalihkan pandangan kepada maddahin (kalangan penjilat) yang justru tidak akan mengingatkan akan kekeliruan saudaranya.

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِالْأَمِيرِ خَيْرًا جَعَلَ لَهُ وَزِيرَ صِدْقٍ، إِنْ نَسِيَ ذَكَّرَهُ، وَإِنْ ذَكَرَ أَعَانَهُ

“Jika Allah menghendaki kebaikan bagi diri seorang pemimpin/pejabat, maka Allah akan memberinya seorang pendamping/pembantu yang jujur yang akan mengingatkan jika dirinya lalai dan akan membantu jika dirinya ingat” [Shahih. HR. Abu Dawud].

Contoh nyata akan hal ini disebutkan dalam kisah al-Hur bin Qais, orang kepercayaan Umar bin al-Khaththab radhiallahu anhu. Pada saat itu, Umar murka dan hendak memukul Uyainah bin Husn karena bertindak kurang ajar kepada beliau, maka al-Hur berkata kepada Umar,

يَا أَمِيرَ المُؤْمِنِينَ، إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ لِنَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {خُذِ العَفْوَ وَأْمُرْ بِالعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الجَاهِلِينَ} [الأعراف: 199] ، وَإِنَّ هَذَا مِنَ الجَاهِلِينَ، «وَاللَّهِ مَا جَاوَزَهَا عُمَرُ حِينَ تَلاَهَا عَلَيْهِ، وَكَانَ وَقَّافًا عِنْدَ كِتَابِ اللَّهِ»

“Wahai amir al-Mukminin, sesungguhnya Allah ta’ala berfirman kepada nabi-Nya, “Berikan maaf, perintahkan yang baik dan berpalinglah dari orang bodoh.” Sesungguhnya orang ini termasuk orang yang bodoh”. Perawi hadits ini mengatakan, “Demi Allah Umar tidak menentang ayat itu saat dibacakan karena ia adalah orang yang senantiasa tunduk terhadap al-Quran.” [HR. Bukhari].

Betapa banyak kezhaliman dapat dihilangkan dan betapa banyak tindakan yang keliru dapat dikoreksi ketika rekan yang shalih menjalankan perannya.

Ketiga, menyendiri untuk melakukan muhasabah

Salah satu bentuk evaluasi diri yang paling berguna adalah menyendiri untuk melakukan muhasabah dan mengoreksi berbagai amalan yang telah dilakukan.

Diriwayatkan dari Umar bin al-Khaththab, beliau mengatakan,

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَتَزَيَّنُوا لِلْعَرْضِ الأَكْبَرِ

“Koreksilah diri kalian sebelum kalian dihisab dan berhiaslah (dengan amal shalih) untuk pagelaran agung (pada hari kiamat kelak)” [HR. Tirmidzi].

Diriwayatkan dari Maimun bin Mihran, beliau berkata,

لَا يَكُونُ العَبْدُ تَقِيًّا حَتَّى يُحَاسِبَ نَفْسَهُ كَمَا يُحَاسِبُ شَرِيكَهُ

“Hamba tidak dikatakan bertakwa hingga dia mengoreksi dirinya sebagaimana dia mengoreksi rekannya” [HR. Tirmidzi].

Jika hal ini dilakukan, niscaya orang yang melaksanakannya akan beruntung. Bukanlah sebuah aib untuk rujuk kepada kebenaran, karena musibah sebenarnya adalah ketika terus-menerus melakukan kebatilan.

Faedah Mengintrospeksi Diri

Mengintrospeksi diri memiliki beberapa faedah, yaitu:

Pertama, musibah terangkat dan hisab diringankan

Pada lanjutan atsar Umar di atas disebutkan bahwa sebab terangkatnya musibah dan diringankannya hisab di hari kiamat adalah ketika seorang senantiasa bermuhasabah. Umar radhiallahu anhu mengatakan,

وَإِنَّمَا يَخِفُّ الحِسَابُ يَوْمَ القِيَامَةِ عَلَى مَنْ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِي الدُّنْيَا

“Sesungguhnya hisab pada hari kiamat akan menjadi ringan hanya bagi orang yang selalu menghisab dirinya saat hidup di dunia” [HR. Tirmidzi].

Ketika berbagai kerusakan telah merata di seluruh lini kehidupan, maka jalan keluar dari hal tersebut adalah dengan kembali (rujuk) kepada ajaran agama sebagaimana yang disabdakan nabi shallallahu alaihi wa sallam,

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ ، وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ، وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ، وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ، سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ

“Apabila kamu berjual beli dengan cara inah (riba), mengambil ekor-ekor sapi (berbuat zhalim), ridha dengan pertanian (mementingkan dunia) dan meninggalkan jihad (membela agama), niscaya Allah akan menimpakan kehinaan kepada kalian, Dia tidak akan mencabutnya sampai kalian kembali kepada ajaran agama”

Dalam riwayat lain, disebutkan dengan lafadz,

حتى يراجعوا دينهم

“Hingga mereka mengoreksi pelaksanaan ajaran agama mereka” [Shahih. HR. Abu Dawud].

Anda dapat memperhatikan bahwa rujuk dengan mengoreksi diri merupakan langkah awal terangkatnya musibah dan kehinaan.

Kedua, hati lapang terhadap kebaikan dan mengutamakan akhirat daripada dunia

Demikian pula, mengoreksi kondisi jiwa dan amal merupakan sebab dilapangkannya hati untuk menerima kebaikan dan mengutamakan kehidupan yang kekal (akhirat) daripada kehidupan yang fana (dunia). Dalam sebuah hadits yang panjang dari Ibnu Mas’ud disebutkan, “Suatu ketika seorang raja yang hidup di masa sebelum kalian berada di kerajaannya dan tengah merenung. Dia menyadari bahwasanya kerajaan yang dimilikinya adalah sesuatu yang tidak kekal dan apa yang ada di dalamnya telah menyibukkan dirinya dari beribadah kepada Allah. Akhirnya, dia pun mengasingkan diri dari kerajaan dan pergi menuju kerajaan lain, dia memperoleh rezeki dari hasil keringat sendiri. Kemudian, raja di negeri tersebut mengetahui perihal dirinya dan kabar akan keshalihannya. Maka, raja itupun pergi menemuinya dan meminta nasehatnya. Sang raja pun berkata kepadanya, “Kebutuhan anda terhadap ibadah yang anda lakukan juga dibutuhkan oleh diriku”. Akhirnya, sang raja turun dari tunggangannya dan mengikatnya, kemudian mengikuti orang tersebut hingga mereka berdua beribadah kepada Allah azza wa jalla bersama-sama” [Hasan. HR. Ahmad].

Perhatikan, kemampuan mereka berdua untuk mengoreksi kekeliruan serta keinginan untuk memperbaiki diri setelah dibutakan oleh kekuasaan, timbul setelah merenungkan dan mengintrospeksi hakikat kondisi mereka.

Ketiga, memperbaiki hubungan diantara sesama manusia

Introspeksi dan koreksi diri merupakan kesempatan untuk memperbaiki keretakan yang terjadi diantara manusia. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَبْوَابَ الْجَنَّةِ تُفْتَحُ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ، فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا، إِلَّا رَجُلٌ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ، فَيُقَالُ: أَنْظِرُوهُمَا حَتَّى يَصْطَلِحَا ” مَرَّتَيْنِ

“Sesungguhnya pintu-pintu surga dibuka pada hari Senin dan Kamis, di kedua hari tersebut seluruh hamba diampuni kecuali mereka yang memiliki permusuhan dengan saudaranya. Maka dikatakan, “Tangguhkan ampunan bagi kedua orang ini hingga mereka berdamai” [Sanadnya shahih. HR. Ahmad].

Menurut anda, bukankah penangguhan ampunan bagi mereka yang bermusuhan, tidak lain disebabkan karena mereka enggan untuk mengoreksi diri sehingga mendorong mereka untuk berdamai?

Keempat, terbebas dari sifat nifak

Sering mengevaluasi diri untuk kemudian mengoreksi amalan yang telah dilakukan merupakan salah satu sebab yang dapat menjauhkan diri dari sifat munafik. Ibrahim at-Taimy mengatakan,

مَا عَرَضْتُ قَوْلِي عَلَى عَمَلِي إِلَّا خَشِيتُ أَنْ أَكُونَ مُكَذِّبًا

“Tidaklah diriku membandingkan antara ucapan dan perbuatanku, melainkan saya khawatir jika ternyata diriku adalah seorang pendusta (ucapannya menyelisihi perbuatannya).”

Ibnu Abi Malikah juga berkata,

أَدْرَكْتُ ثَلاَثِينَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كُلُّهُمْ يَخَافُ النِّفَاقَ عَلَى نَفْسِهِ، مَا مِنْهُمْ أَحَدٌ يَقُولُ: إِنَّهُ عَلَى إِيمَانِ جِبْرِيلَ وَمِيكَائِيلَ

“Aku menjumpai 30 sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam, merasa semua mengkhawatirkan kemunafikan atas diri mereka. Tidak ada satupun dari mereka yang mengatakan bahwa keimanannya seperti keimanan Jibril dan Mikail” [HR. Bukhari].

Ketika mengomentari perkataan Ibnu Abi Malikah, Ibnu Hajar mengutip perkataan Ibnu Baththal yang menyatakan,

إِنَّمَا خَافُوا لِأَنَّهُمْ طَالَتْ أَعْمَارُهُمْ حَتَّى رَأَوْا مِنَ التَّغَيُّرِ مَا لَمْ يَعْهَدُوهُ وَلَمْ يَقْدِرُوا عَلَى إِنْكَارِهِ فَخَافُوا أَنْ يَكُونُوا دَاهَنُوا بِالسُّكُوتِ

“Mereka khawatir karena telah memiliki umur yang panjang hingga mereka melihat berbagai kejadian yang tidak mereka ketahui dan tidak mampu mereka ingkari, sehingga mereka khawatir jika mereka menjadi seorang penjilat dengan sikap diamnya” [Fath al-Baari 1/111].

Kesimpulannya, seorang muslim sepatutnya mengakui bahwa dirinya adalah tempatnya salah dan harus mencamkan bahwa tidak mungkin dia terbebas dari kesalahan. Pengakuan ini mesti ada di dalam dirinya, agar dia dapat mengakui kesalahan-kesalahan yang dilakukannya sehingga pintu untuk mengoreksi diri tidak tertutup bagi dirinya. Allah ta’ala berfirman,

إن الله لا يغير ما بقوم حتى يغيروا ما بأنفسهم

“Allah tidak akan mengubah kondisi suatu kaum sampai mereka mengubahnya sendiri” (Al-Ra`d 11).

Manusia merupakan makhluk yang lemah, betapa seringnya dia memiliki pendirian dan sikap yang berubah-ubah. Namun, betapa beruntungnya mereka yang dinaungi ajaran agama dengan mengevaluasi diri untuk berbuat yang tepat dan mengoreksi diri sehingga melakukan sesuatu yang diridhai Allah. Sesungguhnya rujuk kepada kebenaran merupakan perilaku orang-orang yang kembali kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya.

http://www.facebook.com/pages/MENATA-HATI-Berbenah-Diri-Menuju-Ridha-dan-Cinta-NYA/231986680230870 

~** Wanita Penebar Pesona, Menuai Petaka **~


********************************************
Atas nama “keindahan” fisik wanita telah dieksploitasi sedemikian rupa. Hampir tak ada ruang publik yang di dalamnya tidak ditonjolkan keindahan fisik (baca: aurat) kaum hawa. Televisi, internet, dan media cetak pun menjadi sarana yang sangat efektif untuk menebar pesonanya.

Bagi sebagian besar masyarakat, majalah, tabloid, buletin, dan semacamnya, telah menjadi kebutuhan bahkan tuntutan. Motif membacanya pun beragam. Ada yang berdalih untuk mengikuti perkembangan mode terkini, ada yang tak ingin ketinggalan dengan gosip terbaru tentang artis idolanya, sekedar mengikuti perkembangan jaman, dan sejuta dalih lainnya.

Namun tentu saja, tak setiap majalah membawa faidah. Karena, majalah dan sejenisnya itu ternyata menyimpan musibah. Di antaranya terpampangnya gambar-gambar, khususnya gambar wanita.

Tak bisa dipungkiri, lembaran-lembaran majalah dan semacamnya itu, seolah memang telah “mewajibkan” dimuatnya foto wanita, baik artis, bintang iklan, maupun tokoh lain, dalam berbagai pose. Bahkan majalah yang dikemas khusus untuk kaum pria pun tak ketinggalan menjajakan wanita sebagai daya tarik untuk memancing minat pembaca. Seolah media tersebut tak akan laku tanpa wanita. Lebih-lebih lagi gambar-gambar wanita yang dapat memancing bergolaknya syahwat.

Sungguh, keadaan yang demikian adalah musibah yang sangat mengerikan. Tersebarnya gambar yang semacam itu akan menggiring masyarakat pada kerusakan akhlak, sehingga perzinaan bukan lagi dianggap barang tabu.

Andaikan mereka mengingat lagi peringatan dari Rabb semesta alam ketika Dia berfirman:

وَلاَ تَقْرَبُوا الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيْلاً

“Dan janganlah kalian mendekati perbuatan zina. Sesungguhnya zina itu adalah perbuatan yang keji dan sejelek-jelek jalan.” (Al-Isra: 32)

Dalam ayat ini Allah ta’ala berfirman, melarang hamba-hamba-Nya dari berbuat zina, mendekati perbuatan itu, dan melakukan hal-hal yang mendorong serta mengantarkannya kepada zina. Demikian diterangkan oleh Al-Imam Ibnu Katsir. (Tafsir Ibnu Katsir, 3/41)

Kalangan ulama pun turut berbicara tentang permasalahan majalah ini. Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah secara gamblang mengungkap, bagaimana sebenarnya keberadaan majalah-majalah yang ada pada masa ini. Di belahan lain, seorang muhaddits dari Negeri Yaman turut berbicara tentang permasalahan gambar secara khusus. Ketika disibak dan dirunut kembali lembaran-lembaran yang memuat pembicaraan mereka berdua, semogalah diraup banyak faidah.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah pernah diminta fatwanya tentang majalah yang beredar di negerinya. Setelah dengan terpaksa membolak-balik dengan cepat dan sekilas isi majalah yang disodorkan kepada beliau -karena tidak mungkin beliau memberikan hukum tanpa tahu isinya- beliau menyatakan:

Aku dapatkan majalah-majalah ini –demi Allah– aku bersumpah dengan nama Allah di tempat ini, sedangkan kalian menjadi saksi. Dan Allah yang ada di atas kita menjadi saksi atas apa yang akan kukatakan dan atas apa yang kalian dengar, aku dapati majalah-majalah ini menghancurkan akhlak dan merusak umat. Seseorang yang berakal yang mau menelitinya tidak akan ragu terhadap keinginan pengedar majalah ini di tengah masyarakat muslimin.

Aku dapati setelah melihat sendiri, ternyata majalah ini lebih buruk daripada apa yang didengar. Kudapati dalam majalah ini, ucapan-ucapan rendah, hina, tidak ada rasa malu sama sekali, yang ucapan semacam itu bakal dimuntahkan oleh setiap orang yang memiliki akhlak yang lurus.

Aku melihat di sampulnya ada gambar-gambar wanita. Demikian pula di dalamnya ada gambar-gambar wanita yang akan menjerumuskan ke jurang fitnah dengan berbagai penampilan mode yang rendah, yang menenggelamkan dalam kerendahan dan dapat menggerakkan syahwat orang yang tidak memiliki syahwat sekalipun.

Aku dapatkan pula gambar kemasan-kemasan rokok yang mengajak manusia untuk mengisapnya, dan aku dapatkan pula kemungkaran-kemungkaran yang besar dan keji selain itu….”

Sedemikian buruknya keadaan majalah-majalah tersebut, hingga beliau juga menyatakan:

Aku menyeru kalian untuk menjaga agama dan akhlak kalian. Aku menyeru kalian untuk menjauh dari fitnah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Aku memperingatkan kalian agar tidak memasukkan koran dan majalah yang penuh dengan gambar yang membuat fitnah, sarat dengan kata-kata yang menyesatkan, dan mode-mode yang menyimpang, ke dalam rumah kalian, hingga koran dan majalah itu jatuh ke tangan anggota keluarga kalian. Akibatnya, koran dan majalah itu akan membinasakan dan merusak akhlak mereka. Segala sesuatu yang dipampangkan dalam koran dan majalah ini, akan memberi pengaruh terhadap orang yang mengumpulkannya dalam keadaan ia senang dengannya dan dengan pemikiran yang disebarkan dalam majalah itu.

Wahai kaum mukminin, keberadaan majalah dan koran di dalam rumah akan mencegah masuknya malaikat ke dalam rumah, karena malaikat tidak akan masuk ke rumah yang di dalamnya terdapat gambar. Lalu bagaimana persangkaanmu tentang rumah yang tidak dimasuki malaikat?

Oleh karena itu, mengumpulkan majalah seperti ini haram hukumnya, haram menjual dan membelinya, haram mencari keuntungan dengannya, haram pula menghadiahkannya dan menerimanya sebagai hadiah. Setiap upaya yang membantu penyebarannya di kalangan muslimin haram, karena perbuatan demikian termasuk tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.

Allah ta’ala berfirman:

وَتَعَاوَنُوْا عَلىَ الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُوْا عَلىَ اْلإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan takwa, dan janganlah kalian tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan.” (Al-Maidah: 2)

(Dari khutbah Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah yang dibukukan dengan judul Fitanul Majallat)

Gambar-gambar makhluk bernyawa yang dimuat di majalah atau media lain merupakan salah satu musibah. Seolah-olah suatu hal yang lumrah bila majalah dihiasi dengan gambar semacam itu. Sementara telah jelas haramnya gambar-gambar makhluk bernyawa, sebagaimana dikatakan oleh Jabir radhiallahu ‘anhu:

نَهَى رَسُولُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الصُّوْرَةِ فِي البَيْتِ وَنَهَى أَنْ يُصْنَعَ ذَلِكَ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang adanya gambar di dalam rumah dan melarang membuat gambar. (Dihasankan oleh Asy-Syaikh Muqbil dalam Ash-Shahihul Musnad, 1/168)

Yang termasuk dalam larangan ini adalah semua gambar makhluk hidup, baik dua dimensi maupun tiga dimensi, yang tidak memiliki bayangan maupun yang memiliki bayangan (Hukmu Tashwir Dzawaatil Arwah, hal. 31, oleh Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah).

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

كُلُّ مُصَوِّرٍ فِي النَّّارِ، يَجْعَلُ لَهُ بِكُلِّ صُوْرَةٍ صَوَّرَهَا نَفْسًا فَتُعَذِّبُهُ فِي جَهَنَّمَ

“Setiap tukang gambar tempatnya di neraka. Dijadikan setiap gambar yang ia buat memiliki nyawa, kemudian gambar-gambar yang bernyawa itu mengadzabnya di jahannam.”

Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma menyampaikan hadits ini kepada seorang tukang gambar, kemudian berkata, “Apabila mau tidak mau engkau harus menggambar, maka buatlah gambar pohon dan benda-benda yang tidak memiliki ruh.” (Shahih, HR. Muslim no. 2110)

Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah menjelaskan bahwa sebab-sebab dilarangnya menggambar makhluk yang memiliki ruh adalah:

1. Gambar demikian memalingkan peribadahan kepada Allah, karena pada akhirnya gambar tersebut akan diibadahi.

‘Aisyah radhiallahu ‘anha mengatakan, “Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sakit, sebagian istri beliau membicarakan tentang gereja bernama Mariyah yang mereka lihat di Habasyah. Di antara istri beliau yang pernah ke negeri Habasyah adalah Ummu Salamah dan Ummu Habibah radhiallahu ‘anhuma. Keduanya menceritakan keindahan gereja tersebut dan gambar-gambar yang ada di dalamnya. Mendengar hal itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat kepala beliau seraya berkata:

إِنَّ أُولَئُِكَ إِذَا كَانَ فِيْهِمُ الرَّجُلُ الصَّالِحُ فَمَاتَ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا، وَصَوَّرُوْا فِيْهِ تِلْكَ الصُّوَرَ، فَأُولَئِكَ شِرَارُ الخَلْقِ عِنْدَ اللهِ يَوْمَ القِيَامَةِ

“Apabila ada di kalangan mereka itu seorang shalih meninggal dunia, mereka membangun masjid di atas kuburannya, kemudian mereka membuat gambar orang shalih tersebut di dalam masjid yang dibangun. Mereka itu adalah sejelek-jelek makhluk di sisi Allah.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 427, 434, 1341, 3878 dan Muslim no. 528)

2. Gambar-gambar itu menandingi ciptaan Allah.

‘Aisyah radhiallahu ‘anha mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masuk ke rumahku. Ketika itu aku menutup rakku dengan kain tipis yang bergambar. Maka ketika beliau melihatnya, beliau merobeknya dan wajah beliau pun berubah (marah). Beliau bersabda:

أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ القِيَامَةِ الَّذِيْنَ يُضَاهُوْنَ بِخَلْقِ اللهِ

“Manusia yang paling keras siksanya pada hari kiamat adalah orang-orang yang menyaingi ciptaan Allah.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 5954)

3. Gambar-gambar itu membuat fitnah

Majalah yang ada saat ini terkadang mendatangkan fitnah bagi seorang laki-laki apabila ia melihat gambar wanita-wanita telanjang di dalamnya, sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَا تَرَكْتُ فِيْكُمْ بَعْدِيْ فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرَّجُلِ مِنَ النِّسَاءِ

“Tidaklah aku tinggalkan di antara kalian sepeninggalku nanti fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada fitnahnyawanita.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 5096 dan Muslim no. 2740)

Demikian pula bila laki-laki melihat wanita di televisi, internet, atau melalui handphone yang dapat mengirimkan gambar, ataupun media lainnya yang disiapkan oleh musuh-musuh Islam untuk menebarkan fitnah di kalangan kaum muslimin agar berpaling dari agama mereka. Karena memang setiap kali manusia bosan terhadap sebuah piranti teknologi, maka musuh-musuh Islam ini mendatangkan alat lain yang lebih canggih. Oleh sebab itulah gambar yang tersebar di media cetak, audio visual, dan alat-alat mutakhir lainnya, diharamkan.

Yang dikecualikan dari pengharaman gambar ini hanyalah permainan boneka anak kecil yang terbuat dari kain perca dan kapas, sebagaimana permainan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha berupa seekor kuda bersayap. Adapun yang terbuat dari plastik, maka tidak termasuk dalam kebolehan tersebut. (Dinukil secara ringkas dari Hukmu Tashwiir Dzawaatil Arwah)

Adapun bila gambar itu tidak memiliki kepala, maka bukan termasuk makhluk hidup, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika mendapatkan gambar atau patung makhluk hidup, beliau memotong kepalanya. (HR. At-Tirmidzi dalam Sunan-nya (8/90), Abu Dawud dalam Sunan-nya (11/213), dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu. Dihasankan oleh Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah dalam Hukmu Tashwiir Dzawaatil Arwah, hal. 52)

Selain itu, Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu juga meriwayatkan:

أَنَّ جِبْرِيْلَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَرَفَ صَوْتَهُ فَقَالَ : اُدْخُلْ. فَقَالَ: إِنَّ فِي البَيْتِ سِتْرًا فِي الحَائِطِ فِيْهِ تَمَاثِيْلُ فَاقْطَعُوا رُئُوْسَهَا فَاجْعَلُوْا بِسَاطًا أَوْ وَسَائِدَ فَأَوْطَأْهَا فَإِنَّا لاَ نَدْخُلُ بَيْتًا فِيْهِ تَمَاثِيْلَُ

Jibril ‘alaihis salam datang, lalu mengucapkan salam kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka Nabi mengenali suaranya. Beliau berkata, “Masuklah.” Jibril menjawab, “Sesungguhnya di dalam rumah ini ada satir (penutup) tembok yang bergambar makhluk hidup, maka potonglah kepalanya , lalu jadikan kain satir itu hamparan atau bantal untuk diinjak, karena kami tidak akan masuk ke rumah yang di dalamnya ada gambar makhluk hidup.” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya no. 8065. Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah dalam Ash-Shahihul Musnad (2/346) berkata: ‘Hadits ini shahih dan rijalnya rijal shahih.’)

Dalam hadits di atas terdapat dalil di mana gambar-gambar yang dihinakan harus telah dipotong kepalanya hingga menyerupai pohon. Juga kita dapatkan dalil lain yang menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menolak untuk masuk ke rumah ‘Aisyah radhiallahu ‘anha ketika beliau melihat di dalamnya ada dua bantal bergambar makhluk hidup, hingga beliau menyobek gambar tersebut. (Hukmu Tashwiir Dzawaatil Arwah, catatan kaki hal. 53)

Demikianlah pada akhirnya, diakui ataupun tidak, nampaklah bagi setiap orang yang menyimak ucapan dua ulama di atas tentang keberadaan majalah yang banyak tersebar di tangan kaum muslimin sekarang ini. Apa pun dalih bagi kalangan yang menentangnya, namun sesungguhnya kebenaran itu tidak akan sirna selamanya.

(Dinukil secara ringkas oleh Ummu ‘Abdirrahman Anisah bintu ‘Imran dari tulisan Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim Al-Atsari yang berjudul Kedudukan Media Massa dalam Syariat Islam)


http://www.facebook.com/pages/MENATA-HATI-Berbenah-Diri-Menuju-Ridha-dan-Cinta-NYA/231986680230870

Kisah Sabar yang Paling Mengagumkan|Motivasi|Penggugah Jiwa|Kisah-Kisah|Hamba Solih|

(ilustrasi : bayi)Akhwatmuslimah.com – Prof. Dr. Khalid al-Jubair penasehat spesialis bedah jantung dan urat nadi di rumah sakit al-Malik Khalid di Riyadh mengisahkan sebuah kisah pada sebuah seminar dengan tajuk Asbab Mansiah (Sebab-Sebab Yang Terlupakan). Mari sejenak kita merenung bersama, karena dalam kisah tersebut ada nasihat dan pelajaran yang sangat berharga bagi kita.
Sang dokter berkata:
Pada suatu hari -hari Selasa- aku melakukan operasi pada seorang anak berusia 2,5 tahun. Pada hari Rabu, anak tersebut berada di ruang ICU dalam keadaan segar dan sehat.
Pada hari Kamis pukul 11:15 -aku tidak melupakan waktu ini karena pentingnya kejadian tersebut- tiba-tiba salah seorang perawat mengabariku bahwa jantung dan pernafasan anak tersebut berhenti bekerja. Maka akupun pergi dengan cepat kepada anak tersebut, kemudian aku lakukan proses kejut jantung yang berlangsung selama 45 menit. Selama itu jantungnya tidak berfungsi, namun setelah itu Allah Subhanaahu wa Ta`ala menentukan agar jantungnya kembali berfungsi. Kamipun memuji Allah Subhanaahu wa Ta`ala .
Kemudian aku pergi untuk mengabarkan keadaannya kepada keluarganya, sebagaimana anda ketahui betapa sulit mengabarkan keadaan kepada keluarganya jika ternyata keadaannya buruk. Ini adalah hal tersulit yang harus dihadapi oleh seorang dokter. Akan tetapi ini adalah sebuah keharusan. Akupun bertanya tentang ayah si anak, tapi aku tidak mendapatinya. Aku hanya mendapati ibunya, lalu aku katakan kepadanya: “Penyebab berhentinya jantung putramu dari fungsinya adalah akibat pendarahan yang ada pada pangkal tenggorokan dan kami tidak mengetahui penyebabnya. Aku kira otaknya telah mati.”
Coba tebak, kira-kira apa jawaban ibu tersebut?Apakah dia berteriak? Apakah dia histeris? Apakah dia berkata: “Engkaulah penyebabnya!”Dia tidak berbicara apapun dari semua itu bahkan dia berkata:“Alhamdulillah.” Kemudian dia meninggalkanku dan pergi.
Sepuluh hari berlalu, mulailah sang anak bergerak-gerak. Kamipun memuji Allah Subhanaahu wa Ta`ala serta menyampaikan kabar gembira sebuah kebaikan yaitu bahwa keadaan otaknya telah berfungsi.
Pada hari ke-12, jantungnya kembali berhenti bekerja disebabkan oleh pendarahan tersebut. Kami pun melakukan proses kejut jantung selama 45 menit, dan jantungnya tidak bergerak. Maka akupun mengatakan kepada ibunya:“Kali ini menurutku tidak ada harapan lagi.” Maka dia berkata:“Alhamdulillah, ya Allah jika dalam kesembuhannya ada kebaikan, maka sembuhkanlah dia wahai Rabbi.”
Maka dengan memuji Allah, jantungnya kembali berfungsi, akan tetapi setelah itu jantung kembali berhenti sampai 6 kali hingga dengan ketentuan Allah Subhanaahu wa Ta`ala spesialis THT berhasil menghentikan pendarahan tersebut, dan jantungnya kembali berfungsi.
Berlalulah sekarang 3,5 bulan, dan anak tersebut dalam keadaan koma, tidak bergerak. Kemudian setiap kali dia mulai bergerak dia terkena semacam pembengkakan bernanah aneh yang besar di kepalanya, yang aku belum pernah melihat semisalnya. Maka kami katakan kepada sang ibu bahwa putra anda akan meninggal. Jika dia bisa selamat dari kegagalan jantung yang berulang-ulang, maka dia tidak akan bisa selamat dengan adanya semacam pembengkakan di kepalanya. Maka sang ibu berkata:“Alhamdilillah.” Kemudian meninggalkanku dan pergi. Setelah itu, kami melakukan usaha untuk merubah keadaan segera dengan melakukan operasi otak dan urat syaraf serta berusaha untuk menyembuhkan sang anak. Tiga minggu kemudian, dengan karunia Allah Subhanaahu wa Ta`ala , dia tersembuhkan dari pembengkakan tersebut, akan tetapi dia belum bergerak.
Dua minggu kemudian, darahnya terkena racun aneh yang menjadikan suhunya 41,2oC. maka kukatakan kepada sang ibu:“Sesungguhnya otak putra ibu berada dalam bahaya besar, saya kira tidak ada harapan sembuh.” Maka dia berkata dengan penuh kesabaran dan keyakinan:“Alhamdulillah, ya Allah, jika pada kesembuhannya terdapat kebaikan, maka sembuhkanlah dia.”
Setelah aku kabarkan kepada ibu anak tersebut tentang keadaan putranya yang terbaring di atas ranjang nomor 5, aku pergi ke pasien lain yang terbaring di ranjang nomor 6 untuk menganalisanya. Tiba-tiba ibu pasien nomor 6 tersebut menagis histeris seraya berkata:“Wahai dokter, kemari, wahai dokter suhu badannya 37,6o, dia akan mati, dia akan mati.” Maka kukatakan kepadanya dengan penuh heran:“Lihatlah ibu anak yang terbaring di ranjang no 5, suhu badannya 41o lebih sementara dia bersabar dan memuji Allah.” Maka berkatalah ibu pasien no. 6 tentang ibu tersebut:“Wanita itu tidak waras dan tidak sadar.”
Maka aku mengingat sebuah hadits Rasulullah Sholallohu `alaihi wa sallam yang indah lagi agung:(طُوْبَى لِلْغُرَبَاِء)“Beruntunglah orang-orang yang asing.” Sebuah kalimat yang terdiri dari dua kata, akan tetapi keduanya menggoncangkan ummat. Selama 23 tahun bekerja di rumah sakit aku belum pernah melihat dalam hidupku orang sabar seperti ibu ini kecuali dua orang saja.
Selang beberapa waktu setelah itu ia mengalami gagal ginjal, maka kami katakan kepada sang ibu:“Tidak ada harapan kali ini, dia tidak akan selamat.” Maka dia menjawab dengan sabar dan bertawakkal kepada Allah:“Alhamdulillah.” Seraya meninggalkanku seperti biasa dan pergi.
Sekarang kami memasuki minggu terakhir dari bulan keempat, dan anak tersebut telah tersembuhkan dari keracunan. Kemudian saat memasuki pada bulan kelima, dia terserang penyakit aneh yang aku belum pernah melihatnya selama hidupku, radang ganas pada selaput pembungkus jantung di sekitar dada yang mencakup tulang-tulang dada dan seluruh daerah di sekitarnya. Dimana keadaan ini memaksaku untuk membuka dadanya dan terpaksa menjadikan jantungnya dalam keadaan terbuka. Sekiranya kami mengganti alat bantu, anda akan melihat jantungnya berdenyut di hadapan anda..
Saat kondisi anak tersebut sampai pada tingkatan ini aku berkata kepada sang ibu:“Sudah, yang ini tidak mungkin disembuhkan lagi, aku tidak berharap. Keadaannya semakin gawat.” Diapun berkata:“Alhamdulillah.” Sebagaimana kebiasaannya, tanpa berkata apapun selainnya.
Kemudian berlalulah 6,5 bulan, anak tersebut keluar dari ruang operasi dalam keadaan tidak berbicara, melihat, mendengar, bergerak dan tertawa. Sementara dadanya dalam keadaan terbuka yang memungkinkan bagi anda untuk melihat jantungnya berdenyut di hadapan anda, dan ibunyalah yang membantu mengganti alat-alat bantu di jantung putranya dengan penuh sabar dan berharap pahala.
Apakah anda tahu apa yang terjadi setelah itu?
Sebelum kukabarkan kepada anda, apakah yang anda kira dari keselamatan anak tersebut yang telah melalui segala macam ujian berat, hal gawat, rasa sakit dan beberapa penyakit yang aneh dan kompleks? Menurut anda kira-kira apa yang akan dilakukan oleh sang ibu yang sabar terhadap sang putra di hadapannya yang berada di ambang kubur itu? Kondisi yang dia tidak punya kuasa apa-apa kecuali hanya berdo’a, dan merendahkan diri kepada Allah Subhanaahu wa Ta`ala ?
Tahukah anda apa yang terjadi terhadap anak yang mungkin bagi anda untuk melihat jantungnya berdenyut di hadapan anda 2,5 bulan kemudian?
Anak tersebut telah sembuh sempurna dengan rahmat Allah Subhanaahu wa Ta`ala sebagai balasan bagi sang ibu yang shalihah tersebut. Sekarang anak tersebut telah berlari dan dapat menyalip ibunya dengan kedua kakinya, seakan-akan tidak ada sesuatupun yang pernah menimpanya. Dia telah kembali seperti sedia kala, dalam keadaan sembuh dan sehat.
Kisah ini tidaklah berhenti sampai di sini, apa yang membuatku menangis bukanlah ini, yang membuatku menangis adalah apa yang terjadi kemudian:
Satu setengah tahun setelah anak tersebut keluar dari rumah sakit, salah seorang kawan di bagian operasi mengabarkan kepadaku bahwa ada seorang laki-laki berserta istri bersama dua orang anak ingin melihat anda. Maka kukatakan kepadanya:“Siapakah mereka?” Dia menjawab,“Tidak mengenal mereka.”
Akupun pergi untuk melihat mereka, ternyata mereka adalah ayah dan ibu dari anak yang dulu kami operasi. Umurnya sekarang 5 tahun seperti bunga dalam keadaan sehat, seakan-akan tidak pernah terkena apapun, dan juga bersama mereka seorang bayi berumur 4 bulan.
Aku menyambut mereka, dan bertanya kepada sang ayah dengan canda tentang bayi baru yang digendong oleh ibunya, apakah dia anak yang ke-13 atau 14? Diapun melihat kepadaku dengan senyuman aneh, kemudian dia berkata:“Ini adalah anak yang kedua, sedang anak pertama adalah anak yang dulu anda operasi, dia adalah anak pertama yang datang kepada kami setelah 17 tahun mandul. Setelah kami diberi rizki dengannya, dia tertimpa penyakit seperti yang telah anda ketahui sendiri.”
Aku tidak mampu menguasai jiwaku, kedua mataku penuh dengan air mata. Tanpa sadar aku menyeret laki-laki tersebut dengan tangannya kemudian aku masukkan ke dalam ruanganku dan bertanya tentang istrinya. Kukatakan kepadanya:“Siapakah istrimu yang mampu bersabar dengan penuh kesabaran atas putranya yang baru datang setelah 17 tahun mandul? Haruslah hatinya bukan hati yang gersang, bahkan hati yang subur dengan keimanan terhadap Allah Subhanaahu wa Ta`ala.”
Tahukah anda apa yang dia katakan?
Diamlah bersamaku wahai saudara-saudariku, terutama kepada anda wahai saudari-saudari yang mulia, cukuplah anda bisa berbangga pada zaman ini ada seorang wanita muslimah yang seperti dia.
Sang suami berkata:“Aku menikahi wanita tersebut 19 tahun yang lalu, sejak masa itu dia tidak pernah meninggalkan shalat malam kecuali dengan udzur syar’i. Aku tidak pernah menyaksikannya berghibah (menggunjing), namimah (adu domba), tidak juga dusta. Jika aku keluar dari rumah atau aku pulang ke rumah, dia membukakan pintu untukku, mendo’akanku, menyambutku, serta melakukan tugas-tugasnya dengan segenap kecintaan, tanggung jawab, akhlak dan kasih sayang.”
Sang suami menyempurnakan ceritanya dengan berkata:
“Wahai dokter, dengan segenap akhlak dan kasih sayang yang dia berikan kepadaku, aku tidak mampu untuk membuka satu mataku terhadapnya karena malu.” Maka kukatakan kepadanya: “Wanita seperti dia berhak mendapatkan perlakuan darimu seperti itu.” Kisah selesai.
Kukatakan:
Saudara-saudariku, kadang anda terheran-heran dengan kisah tersebut, yaitu terheran-heran terhadap kesabaran wanita tersebut, akan tetapi ketahuilah bahwa beriman kepada Allah Subhanaahu wa Ta`ala dengan segenap keimanan dan tawakkal kepada-Nya dengan sepenuhnya, serta beramal shalih adalah perkara yang mengokohkan seorang muslim saat dalam kesusahan, dan ujian. Kesabaran yang demikian adalah sebuah taufik dan rahmat dari Allah Subhanaahu wa Ta`ala .
Allah Subhanaahu wa Ta`ala berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (١٥٥)الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (١٥٦)أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ (١٥٧)
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157)
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ` bersabda:
مَا يُصِيْبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَحُزْنٍ وَلاَ أَذىً وَلاَ غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلاَّ كَفَّرَ اللهُ بِهَا خَطاَيَاهُ
“Tidaklah menimpa seorang muslim dari keletihan, sakit, kecemasan, kesedihan tidak juga gangguan dan kesusahan, hingga duri yang menusuknya, kecuali dengannya Allah Subhanaahu wa Ta`ala akan menghapus kesalahan-kesalahannya.” (HR. al-Bukhari (5/2137))
Maka, wahai saudara-saudariku, mintalah pertolongan kepada Allah Subhanaahu wa Ta`ala , minta dan berdo’alah hanya kepada Allah Subhanaahu wa Ta`ala terhadap berbagai kebutuhan anda sekalian.
Bersandarlah kepada-Nya dalam keadaan senang dan susah. Sesungguhnya Dia Subhanaahu wa Ta`ala adalah sebaik-baik pelindung dan penolong.
Mudah-mudahan Allah Subhanaahu wa Ta`ala membalas anda sekalian dengan kebaikan, serta janganlah melupakan kami dari do’a-do’a kalian.
رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ (١٢٦)
“Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu).” (QS. Al-A’raf: 126) .
(Sumber: Majalah Qiblati )

* CINTA TIDAK SELALU BERWUJUD BUNGA *

~* CINTA TIDAK SELALU BERWUJUD BUNGA *~

Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai sifatnya yang alami dan saya menyukai perasaan hangat yang muncul di hati saya ketika saya bersandar di bahunya yang bidang.

Tiga tahun dalam masa perkenalan, dan dua tahun dalam masa pernikahan, saya harus akui, bahwa saya mulai merasa lelah, alasan-alasan saya mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan.

Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-benar sensitif serta berperasaan halus. Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan. Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa sensitif-nya kurang. Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang ideal.

Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, bahwa saya menginginkan perceraian.

"Mengapa?", dia bertanya dengan terkejut.

"Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya inginkan"

Dia terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya, tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak.


Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya? Dan akhirnya dia bertanya, "Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah pikiranmu?".

Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan, "Saya punya pertanyaan, jika kau dapat menemukan jawabannya di dalam hati saya, saya akan merubah pikiran saya: Seandainya, saya menyukai setangkai bunga indah yang ada di tebing gunung dan kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakah kamu akan melakukannya untuk saya?"

Dia termenung dan akhirnya berkata, "Saya akan memberikan jawabannya besok."

Hati saya langsung gundah mendengar responnya.

Keesokan paginya, dia tidak ada dirumah, dan saya menemukan selembar kertas dengan oret-oretan tangannya dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan....

"Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya."

Kalimat pertama ini menghancurkan hati saya. Saya melanjutkan untuk membacanya.

"Kamu bisa mengetik di komputer dan selalu mengacaukan program di PC-nya dan akhirnya menangis di depan monitor, saya harus memberikan jari-jari saya supaya bisa membantumu dan memperbaiki programnya."

"Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar rumah, dan saya harus memberikan kaki saya supaya bisa mendobrak pintu, dan membukakan pintu untukmu ketika pulang."

"Kamu suka jalan-jalan ke luar kota tetapi selalu nyasar di tempat-tempat baru yang kamu kunjungi, saya harus menunggu di rumah agar bisa memberikan mata saya untuk mengarahkanmu."

"Kamu selalu pegal-pegal pada waktu 'teman baikmu' datang setiap bulannya, dan saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kakimu yang pegal."

"Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu kuatir kamu akan menjadi 'aneh'. Dan harus membelikan sesuatu yang dapat menghiburmu di rumah atau meminjamkan lidahku untuk menceritakan hal-hal lucu yang aku alami."

"Kamu selalu menatap komputermu, membaca buku dan itu tidak baik untuk kesehatan matamu, saya harus menjaga mata saya agar ketika kita tua nanti, saya masih dapat menolong mengguntingkan kukumu dan mencabuti ubanmu."

"Tanganku akan memegang tanganmu, membimbingmu menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-warna bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajahmu".

"Tetapi sayangku, saya tidak akan mengambil bunga itu untuk mati. Karena, saya tidak sanggup melihat air matamu mengalir menangisi kematianku."

"Sayangku, saya tahu, ada banyak orang yang bisa mencintaimu lebih dari saya mencintaimu."

"Untuk itu sayang, jika semua yang telah diberikan tanganku, kakiku, mataku, tidak cukup bagimu. aku tidak bisa menahan dirimu mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat membahagiakanmu."

Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur, tetapi saya tetap berusaha untuk membacanya.

"Dan sekarang, sayangku, kamu telah selasai membaca jawaban saya. Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkanku untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang berdiri disana menunggu jawabanmu."

"Jika kamu tidak puas, sayangku, biarkan aku masuk untuk membereskan barang-barangku, dan aku tidak akan mempersulit hidupmu. Percayalah, bahagiaku bila kau bahagia."

Saya segera berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaanku. Oh, kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai saya lebih dari dia mencintaiku.

Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur hilang dari hati kita karena kita merasa dia tidak dapat memberikan cinta dalam wujud yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari pasangan kita, dan bukan mengharapkan wujud tertentu.

"Karena cinta tidak selalu harus berwujud "bunga".

* SEMOGA BERMANFAAT *

sumber : http://www.facebook.com/pages/MENATA-HATI-Berbenah-Diri-Menuju-Ridha-dan-Cinta-NYA/231986680230870
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Peluang Bisnis Rumahan - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger